Semarangkita.id – Pulau Kalimantan tengah menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), per Rabu (26/8/2026) pukul 00.15 WIB terdapat 3.672 sebaran titik panas (hotspot) di Kalimantan.
Kalimantan merupakan habitat utama untuk populasi orang utan. CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite, menyebut bahwa banyaknya hostpot dan api membuat orang utan terancam kehilangan rumahnya.
Meskipun di berbagai wilayah keberadaan orang utan tidak ada api, sudah ada asap yang bisa berdampak pada pernapasan orang utan.
“Asap itu bisa mengganggu pernapasannya. Kita bisa pakai masker. Orang Utan kan enggak pakai masker. Kemudian, kondisi asap bisa juga membuat mereka panik dan kemudian navigasi mereka menjadi terganggu karena enggak bisa kelihatan lagi. Kita sama juga, kita masuk daerah asap yang tadinya bisa lari, sekarang nggak bisa lari karena langsung sesak napas. Itu juga yang dialami oleh orang utan,” ujar Jamartin Sihite CEO BOS Foundation.
Bos Foundation turut menyampaikan kekhawatirannya bahwa keseimbangan ekosistem dapat terganggu.
“Nah, di alam, di hutan ketika banyak asap lebhanya kan pergi, Burung-burung pun pergi, Akhirnya nanti walaupun tidak ada api, di hutan yang kena asap itu potensinya berbahaya juga karena lebah akan pergi,” Jelas Jamartin
“Fungsi lebah sebagai yang membuat penyerbukan menjadi berkurang.” imbuhnya.












