Semarangkita.id – Badan Riset dan Inovasi (BRIN) menemukan potensi sesar aktif di wilayah Semarang dan sekitarnya yang dapat menimbukan gempa bumi berskala besar.
Temuan ini diungkapkan oleh Sonny Aribowo, perise bidang Paleosesmologi dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN. Dalam keterangannya, Sonny menjelaskan bahwa terdapat jejak morfologi unik antara Pantai Utara Jawa dan Kota Semarang, yang menunjukkan adanya batas morfologi mencolok antara area datar utara dan area datar yang lebih tinggi di selatan.
“Sesar di Semarang ini sudah pasti ada dan sudah pasti aktif karena ditemukan batuan dan atupun endapan yang jadi indikatornya”, tuturnya dari laman BRIN.go.id, Jumat, 8 Agustus 2025.
Temuan Sesar Aktif Semarang tersebut berasal dari ekspedisi geologi darat yang dilakukan pada Mei 2025, mencakup Wilayah Semarang, Demak, dan Kendal. Tujuannya adalah mendokumentasikan dan memahami fitur geologi aktif, terutama sruktur sesar naik yang memiliki potensi aktivitas seismik masa lalu.
Tim Ekspedisi menyususri tiga zona utam diantaranya adalah:
1. Zona Timur (Demak)
Ditemukan gawir sesar berupa lereng curam setinggi 1 meter di atas endapan aluvial muda, diperkirakan hasil dari satu kejadian gempa. Lokasi ini dinilai ideal untuk survei geolistrik dan pemetaan lanjutan menggunakan LiDAR.
2. Zona KOta (Semarang
Struktur serupa ditemukan di area Taman Makam Pahlawan dengan ketinggian gawir mencapai 4 meter. Pelacakan lebih lanjut akan dilakukan mengingat kondisi kawasan perkotaan yang sudah mengalami banyak modifikasi lanskap.
3. Zona Barat (Kendal)
Di kawasan Bendungan Juwero, jejak gawir sesar antara 0,5–3 meter ditemukan bersama singkapan sesar aktif yang menunjukkan aktivitas tektonik Holosen. Beberapa bagian sesar bahkan terangkat hingga 20 meter di atas sungai, menjadi bukti nyata pergerakan kerak bumi dalam skala waktu geologis.
Lokasi Semarang dipilih karena memiliki patahan panjang, yang masih diteliti untuk menentukan apakah merupakan satu segmen sesar utuh atau terdiri dari beberapa segmen berbeda. Potensi magnitudo gempa akan lebih besar jika berasal dari satu sesar yang utuh.
Menariknya, bagian paling panjang dari patahan tersebut berada di utara Semarang, dan disebut lebih panjang dari Sesar Lembang, salah satu sesar paling aktif di Indonesia.
“Kalau dari permukaan, sesarnya terlihat putus-putus, jadi bisa jadi berbeda segmen. Tapi nanti di ekspedisi bulan Agustus/September akan dilakukan trenching di lokasi tersebut, untuk melihat berapa periode ulang gempa yang terjadi,” lanjut Sonny.
Sebagai tindak lanjut, tim BRIN akan melaksanakan ekspedisi tambahan pada Agustus 2025. Agenda kegiatan mencakup pengambilan 10 sampel ilmiah untuk analisis lanjutan, pemetaan tujuh titik lokasi, serta penyusunan draf publikasi ilmiah yang direncanakan rampung tahun ini.
Penemuan sesar aktif di Semarang menjadi temuan strategis yang menyimpan informasi penting terkait risiko gempa bumi di kawasan perkotaan padat penduduk tersebut. Dokumentasi serta pemetaan yang dilakukan BRIN diharapkan dapat menjadi pijakan bagi mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta peningkatan kesadaran publik terhadap potensi bahaya geologi yang selama ini tersembunyi.
