Dosen FMIPA UNNES Latih Warga Desa Jetak Ubah Sampah Dapur Menjadi Ecoenzyme

Pengabdian masyarakat dosen UNNES

Semarangkita.id – Kabupaten Semarang – Tim dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang (FMIPA UNNES) melatih masyarakat Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah sampah organik rumah tangga menjadi ecoenzyme, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang (LPPM UNNES) tersebut diikuti oleh 30 ibu rumah tangga. Pelatihan dirancang untuk meningkatkan keterampilan warga dalam mengurangi sampah organik sekaligus membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomi.

Ketua tim pengabdian, Hendra Febriyanto, M.Pd., mengatakan bahwa sampah sisa sayuran dan buah-buahan yang dihasilkan setiap hari sebenarnya masih dapat dimanfaatkan. Pengolahan menjadi ecoenzyme menjadi salah satu alternatif yang dapat dilakukan masyarakat mulai dari lingkungan rumah tangga.

“Selama ini sampah organik dari dapur sering langsung dibuang. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah tersebut masih dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Langkahnya relatif sederhana dan dapat dipraktikkan oleh masyarakat di rumah,” kata Hendra.

Menurut dosen Program Studi S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam FMIPA UNNES tersebut, kegiatan pengabdian tidak hanya berfokus pada persoalan lingkungan. Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pemasaran digital agar produk yang dihasilkan nantinya dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.

“Kami berharap masyarakat tidak berhenti pada tahap mampu membuat ecoenzyme. Apabila produksinya berkembang dan kualitasnya terjaga, produk ini dapat dikemas dan dipasarkan sehingga berpotensi menambah pendapatan keluarga,” ujarnya.

Belajar Produksi hingga Pemasaran Digital

 

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai proses pembuatan dan pemanfaatan ecoenzyme oleh Fidia Fibriana, Ph.D. Peserta memperoleh penjelasan tentang jenis bahan organik yang dapat digunakan, komposisi bahan, tahapan fermentasi, cara penyimpanan, dan kemungkinan pemanfaatan produk yang dihasilkan.

Materi berikutnya membahas social media marketing yang disampaikan oleh Hendra Febriyanto. Sesi tersebut membekali peserta dengan pengetahuan dasar mengenai penggunaan media sosial untuk memperkenalkan produk, menyusun informasi pemasaran, membuat konten, dan menjangkau calon konsumen.

Setelah menerima materi, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan ecoenzyme. Tim pengabdian menyediakan alat dan bahan sehingga peserta dapat mencoba setiap tahapan pengolahan secara mandiri dengan pendampingan.

Salah seorang peserta mengaku pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru tentang pemanfaatan sampah dapur. Sebelumnya, sisa buah dan sayuran di rumah umumnya dibuang bersama sampah lainnya.

“Biasanya sisa sayur dan kulit buah langsung kami buang. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami mengetahui bahwa sampah dapur dapat diolah dan dimanfaatkan kembali. Praktiknya juga mudah diikuti karena kami langsung mencoba dengan alat dan bahan yang sudah disediakan,” katanya.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat dilanjutkan dengan pendampingan, terutama terkait proses fermentasi, kualitas produk, pengemasan, dan pemasaran.

“Kalau hasilnya bagus dan bisa diproduksi bersama, tentu menarik untuk dikembangkan. Selain membantu mengurangi sampah rumah tangga, kegiatan ini juga berpeluang menjadi tambahan usaha bagi ibu-ibu di desa,” ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi, berdiskusi, dan mempraktikkan proses pembuatan ecoenzyme. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan menuangkan ecoenzyme secara bersama-sama ke tanaman.

Mendukung Sejumlah Target SDGs

Pelatihan pembuatan ecoenzyme tersebut berkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pengolahan sisa buah dan sayuran menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali mendukung upaya pengurangan timbulan sampah dari sumbernya.

Kegiatan ini juga mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, terutama melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan dan pengurangan pembuangan sampah organik secara tidak terkendali.

Pembekalan keterampilan dan pemasaran digital memiliki keterkaitan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi karena membuka peluang pengembangan usaha rumah tangga berbasis produk ramah lingkungan. Sementara itu, proses edukasi dan peningkatan keterampilan masyarakat mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya pembelajaran sepanjang hayat.

Melalui program tersebut, tim FMIPA UNNES berharap masyarakat Desa Jetak mampu membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari rumah. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat disebarluaskan kepada warga lain sehingga berkembang menjadi gerakan lingkungan sekaligus kegiatan ekonomi berbasis masyarakat.

Exit mobile version