Semarangkita.id – Pada Selasa pagi, 20 Oktober, aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk di Monumen Selamat Datang, Bundaran HI. Isinya: “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” dan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Aksi ini bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menyebut masyarakat menghadapi tekanan berlapis akibat naiknya biaya hidup dan ketidakpastian kerja, termasuk PHK. Greenpeace juga memaparkan hasil surveinya: sekitar 56,79 persen responden mengambil pekerjaan sampingan atau membuka usaha baru demi menambah pemasukan, sekitar Rp500 ribu hingga Rp2 juta per bulan.
Aksi Greenpace tersebut memicu pro dan kontra di sosial media. Ada bebrapa cuitan di sosial media yang terlihat nirempati dengan kondisi Indonesia saat ini, ada akun yang menuliskan cuitan “miskin mah permalahan personal, itu karena dia sendiri yang kurang usaha”.
Kemiskinan struktural bukan sekadar kurang kerja keras , tapi juga dipengaruhi sama kebijakan negara dan kondisi lingkungan tempat kita hidup. Seperti krisis iklim yang bisa membuat harga pangan naik, penghasilan terganggu, dan biaya hidup makin berat. Kemiskinan ternyata tidal sesederhana karena dia kurang bekerja keras akhirnya dia mengalami kemiskinan. Kemiskinan struktural, bukan cuma soal usaha individu, tapi juga akibat sistem kebijakan yang tidak berpihak. Jadi, tidak adil kalau kemiskinan hanya disalahkan ke individu, sementara faktor sistem dan kebijakan yang tidak berkeadilan justru masih diabaikan, terutama krisis iklim.
Semakin parah kriris iklim, semakin berat juga biaya hidup yang harus ditanggung. Krisis iklim yang paling besar berdampak pada pangan (41%) , diikuti produktivitas dan pendapatan (39%). Lalu hunian dan pola mobilitas (20%), dengan pengaruh terbatas pada biaya transportasi.
Krisis iklim membuat petani kesuliyan bercocok tanam sampai gagal panen. Nelayan pun ikut kesulitan melaut. Kalau produksi dan distribusi terganggu, pasokan pangan bisa berkurang dan harga jadi naik. Tapi, kenaikan harga ini bukan cuma dipengaruhi krisis iklim, ada juga faktor lain, seperti inflasi dan meningkatnya permintaan pangan, termasuk yang berkaitan dengan program MBG.
Kalau harga pangan naik, penghasilan semakin tidak pasti dan krisis iklim membuat hidup makin susah, dampaknya pasti tidak dirasakan oleh semua orang dengan cara yang sama. Mereka yang memiliki akses dan sumber daya terbatas ,mau tidak mau harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup.
Tidak semua orang beruntung, tidak semua orang memiliki akses yang sama ke pendidikan, pekerjaan layak, layanan kesehatan atau bahkan makanan yang cukup setiap hari. Kemiskinan bukan selalu soal kurang usaha, dan hidup layak seharusnya bukan privilege tapi hak semua orang.













