PAMA Group Tuntaskan Penanaman 60.000 Mangrove di Pidodokulon Kendal, Libatkan Mahasiswa Internasional

Semarangkita.id – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) bersama PAMA Group menuntaskan target penanaman 60.000 bibit mangrove di Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir dan pembangunan berkelanjutan.

Program rehabilitasi mangrove tersebut dilaksanakan secara bertahap sejak Agustus 2026. Sebanyak 10.000 bibit ditanam pada Agustus, dilanjutkan 10.000 bibit pada September, dan penanaman kembali dilakukan pada Oktober hingga jumlah kumulatif mencapai 60.000 bibit mangrove.

Sebelumnya, PAMA Group juga telah melaksanakan penanaman 2.000 bibit mangrove di Pantai Mangunharjo, Semarang, pada Juni 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PAMA Group untuk memperluas kontribusi perusahaan dalam pemulihan ekosistem pesisir.

Berada di Muara Bodri

Pemilihan Pidodokulon sebagai lokasi rehabilitasi mangrove memiliki relevansi ekologis karena kawasan tersebut berada di sekitar Muara Sungai Bodri, wilayah pertemuan antara aliran air tawar dari Sungai Bodri dan air laut dari Laut Jawa.

Kondisi tersebut membentuk karakteristik estuari atau peraira n payau, dengan substrat berlumpur hingga berpasir yang memperoleh masukan material organik dan nutrien dari wilayah daratan. Karakteristik lingkungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberadaan dan perkembangan ekosistem mangrove.

Dosen FMIPA Universitas Negeri Semarang, Trida Ridho Fariz, M.Sc., menjelaskan bahwa kawasan Muara Bodri juga merupakan salah satu wilayah yang memiliki proses akresi relatif tinggi, yaitu penambahan daratan akibat akumulasi sedimen.

“Muara Bodri memiliki karakteristik estuari karena menjadi wilayah pertemuan antara air tawar Sungai Bodri dan air laut. Selain itu, kawasan ini memiliki proses akresi yang relatif tinggi, sehingga secara geomorfologis terdapat penambahan material sedimen yang dapat mendukung perkembangan habitat mangrove,” jelas Trida.

Menurutnya, karakteristik tersebut menjadi salah satu pertimbangan ekologis yang relevan dalam upaya rehabilitasi mangrove. Namun, keberhasilan rehabilitasi tetap perlu didukung dengan pemilihan jenis yang sesuai, kondisi hidrologi yang tepat, serta pemeliharaan dan pemantauan secara berkelanjutan.

Kolaborasi Lingkungan dan Edukasi Internasional

Dalam pelaksanaannya, PAMA Group mendapat dukungan dari Pusat Pemberdayaan Pelayanan Masyarakat Pesisir (P3MP) Kendal sebagai mitra dalam kegiatan rehabilitasi mangrove. Program tersebut juga bersinergi dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui kegiatan edukasi dan keterlibatan mahasiswa internasional dalam NSC Flash.

Penanaman pada Oktober turut diikuti oleh 64 mahasiswa internasional dari 15 negara yang menjadi peserta NSC Flash. Para peserta berasal dari Nigeria, Timor-Leste, Sudan, Pakistan, Yaman, Thailand, Jepang, Kenya, Afghanistan, Uganda, Mali, Gambia, Maroko, Vietnam, Zimbabwe, dan Spanyol.

Keterlibatan mahasiswa internasional memberikan nilai tambah pada kegiatan rehabilitasi tersebut. Selain menjadi aksi penanaman, kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran lapangan mengenai ekosistem pesisir, perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.

Bagi PAMA Group, keterlibatan berbagai pihak dalam program tersebut menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan program lingkungan.

“Bagi PAMA Group, keberlanjutan bukan hanya mengenai jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga bagaimana program dapat memberikan manfaat lingkungan dan sosial dalam jangka panjang. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat, mitra lingkungan, dan institusi pendidikan, menjadi bagian penting dari upaya kami,” ujar perwakilan manajemen PAMA.

Memperkuat Fungsi Ekosistem Pesisir

Ekosistem mangrove memiliki berbagai fungsi ekologis, antara lain membantu meredam energi gelombang dan melindungi garis pantai, menyediakan habitat bagi berbagai organisme, mendukung keanekaragaman hayati, serta berperan dalam penyimpanan karbon pada biomassa dan sedimen.

Keberadaan mangrove juga memiliki keterkaitan erat dengan dinamika kawasan muara. Sedimen yang terbawa aliran sungai dan kemudian terakumulasi di wilayah pesisir dapat menjadi bagian dari proses pembentukan habitat mangrove. Sebaliknya, vegetasi mangrove yang berkembang dapat membantu menangkap dan menahan sedimen sehingga berkontribusi terhadap stabilisasi kawasan pesisir.

Melalui penanaman 60.000 bibit mangrove di Pidodokulon, PAMA Group berharap program rehabilitasi tersebut dapat memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepedulian terhadap keberlanjutan kawasan pesisir.

Program ini juga mendukung kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Climate Action), SDG 14 (Life Below Water), SDG 15 (Life on Land), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Setelah target penanaman tercapai, perhatian selanjutnya diarahkan pada pemeliharaan, pemantauan, dan keberlanjutan pertumbuhan mangrove. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan vegetasi untuk tumbuh dan membentuk ekosistem pesisir yang berfungsi dalam jangka panjang.

Exit mobile version