Semarangkita.id – Pasar Djohar bukan sekadar pasar, tapi saksi sejarah ekonomi Semarang sejak dulu. Dari arsitektur ikonik karya Thomas Karsten sampai hiruk pikuk pedagangnya yang tak pernah berhenti. Pasar Djohar tetap hidup sebagai pusat aktivitas warga dan budaya kota.
Pasar yang berlokasi di Jl. K.H. Agus Salim ini kembali hadir dengan wajah baru yang lebih modern namun tetap mempertahankan nuansa klasiknya yang autentik. Setelah sempat bangkit dari peristiwa kebakaran tahun 2015, kini Pasar Johar berdiri megah dan siap menyambut kamu dengan pengalaman berbelanja yang lebih nyaman namun tetap penuh nilai sejarah.
Menariknya pasar ini pernah dinobatkan sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara sehingga memiliki peranan yang begitu besar dalam membangkitkan perekonomian Kota Semarang. Saat itu semua pedagang dari berbagai pelosok bermuara ke sini. Johar bukan hanya pusat kulakan, tetapi juga pusat pertemuan sekaligus kehidupan ekonomi masyarakat Kota Semarang. Namun Kejayaan itu tinggalah sebuah cerita saja, semenjak pandemi covid-19 baik penjual mauu pembeli di Pasar Djohar mengalami penurunan.
Pasar Johar Semarang memiliki nama unik karena diambil dari nama pohon johar yang dahulu banyak tumbuh di sekitar kawasan tersebut. Pasar ini dirancang oleh seorang tokoh Belanda bernama Ir. Thomas Karsten pada tahun 1933 dan memulai kisah sejarahnya di tahun 1960. Pada saat itu, Karsten merancang bangunan ini di kawasan dekat alun-alun Kota Semarang dan gedung penjara tua.
Saat ini Pasar Johar masih berdiri kokoh dan terbagi menjadi empat wilayah, yakni Pasarh. Johar Selatan, Pasar Johar Tengah, Pasar Johar Utara, dan Pasar Johar Kanjengan. Bangunan dari Pasar Johar masih mempertahankan arsitektur Belanda dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi. Walaupun pernah mengalami kebakaran hebat di tahun 2015, bangunan Pasar Johar tidak kehilangan ciri khasnya sebagai bangunan bersejarah.













