Semarangkita.id – Dalam setahun terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah.
Per hari ini, 18 Mei 2026, kurs menyentuh Rp 17.670 per dollar. Artinya dalam 12 bulan, rupiah melemah lebih dari 7%. Mirisnya ditengah merosotnya nilai rupiah banyak pernyataan presiden dan pejabat yang membuat masyarakat menjadi khawatir tentang kondisi Indonesia saat ini.
“Yang panik itu cuma orang kota. Yang sering liburan ke luar negeri, yang impor barang, yang main saham.”
“Orang desa mah aman. Petani di kampung jual padi pake rupiah, beli kebutuhan di pasar pake rupiah. Mereka ga nyentuh dollar sama sekali. Ngapain ikut panik?”
Mata uang sebenernya seperti barang dagangan, ada yang jual ada yang beli, dan harganya bergerak tiap detik di pasar global.
Fenomena pelemahan rupiah atas dolar yang terjadi belakangan, disebut tak berdampak ke masyarakat, khususnya pedesaan. Hal itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah singgah, di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026). Prabowo meyakini fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam beberapa pekan terakhir.
Apa Dampak melemahnya kurs Rupiah?
Imbas kenaikan harga dolar yang membuat nilai tukar rupiah melemah, tercermin pada harga kebutuhan sehari-hari, khususnya yang bergantung pada komoditas impor.
Menurut ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy, pelemahan rupiah sudah mulai memberikan tekanan harga, meski belum signifikan dan terliihat di angka inflasi.
Struktur ekonomi Indonesia, kata Yusuf, masih cukup bergantung pada impor pangan, bahan bakar minyak (BBM), bahan baku industri, dan barang modal. Konsekuensinya, pelemahan rupiah cepat atau lambat akan diteruskan ke harga barang dan jasa.
“Dampaknya memang biasanya bertahap, bukan langsung sekaligus. Awalnya, produsen atau distributor masih mencoba menahan harga, tetapi kalau kurs berthan lemah dalam waktu lama, penyesuaian harga hampir tidak terhindarkan,” ujar Yusuf, Senin (18/5/2026).
Salah satu tekanan paling besar, kata Yusuf, datang dari pangan impor seperti gandum, kedelai, gula, dan produk turunannya yang sangat sensitif terhadap kurs.
Misalnya, yang terjadi pada komoditas kedelai yang menjadi bahan baku utama produk tempe, tahu, susu kedelai, sampai kecap. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan kedelai nasional pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. Namun sekitar 95% atau 2,6 juta ton masih dipenuhi dari impor. Karena mayoritas transaksi impor tersebut menggunakan dolar AS, maka ketika rupiah melemah menjadi berpengaruh pada harga jual produk yang meningkat dan konsumen harus mengeluarkan uang lebih. Hal ini karena Biaya impor meningkat dan biaya produksi menjadi meningkat.













