Berita  

Olah Lahan Kritis dengan Smart Farming, Setya Ari Targetkan Duplikasi Revola ke Seluruh Jateng

Olah Lahan Kritis dengan Smart Farming di jateng

Semarangkita.id – Semarang – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho, menyoroti besarnya potensi sektor pertanian dan peternakan di Jawa Tengah sebagai ujung tombak utama ketahanan pangan daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Jawa Tengah pada 2024 mencapai 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), yang mengukuhkan provinsi ini sebagai lumbung pangan dan produsen padi terbesar kedua di Indonesia. Di saat yang sama, data BPS juga mencatat tingginya potensi subsektor peternakan di Jawa Tengah yang mampu menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja dengan capaian produksi puluhan ribu ton daging per tahun.

Setya Arinugroho menilai, kekuatan ekonomi kerakyatan dari sentra-sentra produksi pangan dan ternak tersebut akan memberikan dampak yang jauh lebih maksimal jika diintegrasikan secara langsung dengan optimalisasi lahan. Konsep pertanian dan peternakan terpadu inilah yang terus ia dorong sebagai langkah strategis untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.

Gagasan integrasi tersebut kini diwujudkan nyata melalui dukungan penuhnya terhadap program percontohan Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis. Program yang menjadikan Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara sebagai lokasi percontohan ini dinilai sangat tepat untuk mengoptimalkan lahan yang selama ini dibiarkan tidak digarap.

Setya Arinugroho menilai langkah mengubah lahan tidak produktif menjadi kawasan pertanian terpadu merupakan jalan keluar yang nyata untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri peresmian program tersebut pada Senin (10/8).

“Alhamdulillah kami dari DPRD bisa mempersamai Pak Gubernur untuk menghadiri peresmian Revolusi Lahan di Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa hal yang mungkin perlu nanti kita dorong agar bisa diduplikasi di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah. Karena ini adalah salah satu upaya kita untuk memberikan pemberdayaan ekonomi kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat petani. Karena ini adalah integrasi antara pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan. Kita harapkan dengan adanya pola-pola seperti ini dapat menjadi langkah percepatan penanganan dan pengurangan kemiskinan,” tegas Setya Arinugroho.

Sebagai informasi, program Revola di Desa Susukan ini dikembangkan di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare. Lahan tersebut kini tidak lagi kosong, melainkan ditanami berbagai komoditas bernilai jual seperti kopi, alpukat, padi, dan tanaman hortikultura. Selain pertanian, kawasan ini juga diintegrasikan dengan kegiatan peternakan seperti ayam dan kambing, serta sektor perikanan.

Penanaman pohon alpukat dan kopi juga dimanfaatkan sebagai tanaman penahan erosi tanah.
Lebih lanjut, Setya Arinugroho memberi perhatian khusus pada keterlibatan anak muda di sektor pertanian ini. Di Banjarnegara, pengelolaan kawasan Revola diserahkan kepada para petani muda yang sudah mulai memanfaatkan teknologi pertanian modern. Penggunaan alat bantu seperti pesawat tanpa awak (drone) dan mesin penyiram otomatis terbukti membuat pekerjaan petani menjadi lebih cepat dan hemat tenaga.

“Keterlibatan generasi muda dengan dukungan teknologi membuktikan bahwa sektor pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih maju. Ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran di desa,” tambah Setya Arinugroho.

Ke depan, Setya Arinugroho berharap program semacam ini tidak hanya berhenti di Kabupaten Banjarnegara. Ia mendorong agar pengelolaan lahan kosong menjadi kawasan produktif yang memadukan pertanian dan peternakan ini bisa ditiru serta diterapkan di 35 kabupaten dan kota di seluruh Jawa Tengah.

“Jika seluruh daerah bisa memanfaatkan lahan kosong mereka seperti di Banjarnegara, kita akan memiliki ketahanan pangan yang kuat di Jawa Tengah. Harapannya, kesejahteraan masyarakat desa juga akan semakin merata,” tutup Setya Arinugroho.

Exit mobile version