Berita  

Plastik Makanan dan Minuman, Mendominasi Sampah Laut di Indonesia

sampah plastik mendominasi laut indonesia

Semarangkita.id – Indonesia, menempati posisi sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, menjadi salah satu titik fokus melalui kolaborasi penelitian dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Profesor Richard Thompson dari University of Plymouth, penulis senior studi ini, menekankan bahwa polusi plastik memberikan dampak buruk bagi lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia. Menurutnya, studi ini mengidentifikasi untuk pertama kalinya kategori sampah yang paling melimpah untuk memandu prioritas intervensi indsutri dan kebijakan.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa kemasan plastik makanan, tutup wadah/botol plastik, serta botol plastik adalah barang-barang sampah laut yang paling  dominan di planet ini.

Studi baru ini mengumpulkan dan mengevaluasi lebih dari 5.000 survei sampah pantai untuk mengungkap barang-barang sampah laut yang dominan di ketujuh benua, sembilan sistem samudera, 13 laut regional dan 112 negara, area gabungan yang mewakili 86% populasi global.

Analisi menunjukan bahwa sampah plastik yang terkait dengan makanan dan minuman mendominasi sampah pantai secara global, dengan peringkat di antara tiga jenis penggunaan yang paling melimpah di 93% negara. Termasuk di lima negara terpadat di dunia yaitu India, Tiongkok, AS, Indonesia, dan Pakistan.

“Ketika industri terus bertumbuh, volume sampah plastik pun akan meningkat, karena industri masih mengandalkan plastik sekali pakai sebagai kemasan,” kata Muharram Atha Rasyadi, Jurukampanye Urban Greenpeace Indonesia. Plastik kemasan memegang porsi terbesar dalam industri plastik secara global.

Volume sampah plastik yang semakin besar menjadi momok bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia. Pasalnya, daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terbatas. Belum lagi, tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang. Oleh sebab itu, “Pengurangan produksi plastik sekali pakai dan penerapan konsep ekonomi sirkular merupakan solusi utama dari krisis masalah plastik,” tegas Atha. Greenpeace terus mendorong para pemangku kepentingan untuk bisa mengaplikasikan sistem penggunaan kembali (reuse) dan isi ulang (refill).

Leave a Reply