Semarangkita.id – Magelang – Univeristas Negeri Semarang (UNNES) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengurangan risiko bencana melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kali ini, Tim PkM UNNES melaksanakan program Pendampingan Penggunaan Jalur Evakuasi Erupsi Gunung Merapi bagi siswa dan guru SD Krinjing 1 dan SD Krinjing 2, Desa Krinjing , Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Program yang berlangsung pada Mei hingga Juli 2026 tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Dewi Liesnoor Setyrowati, M.Si. Bersama tim dosen lintas bidang. Kegiatan ini bertujuan membangun budaya sadar bencana sejak usia dini melalui edukasi dan praktek penggunaan peta jalur evakuasi sebagai panduan penyelamatan ketika terjadi erupsi Gunung Merapi. Selain itu, Siswa dan Guru dengan adanya kegiatan ini agar mampu merespons secara cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika terjadi bencana erupsi Gunung Merapi.
Desa Krinjing dipilih karena berada sekitar 4 kilometer dari puncak Gunung Merapi dan termasuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, yaitu wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi terhadap ancaman erupsi. Desa tersebut juga menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup serius saat erupsi Merapi pada bulan oktober hingga 4-5 November tahun 2010.
Ketua Tim PkM UNNES, Prof. Dr. Dewi Liesnoor Setyowati, M.Si., menjelaskan bahwa pendidikan kebencanaan harus dikenalkan sejak dini agar anak-anak memiliki kemampuan mengenali risiko sekaligus mengetahui langkah penyelamatan yang benar ketika terjadi bencana.
“Anak-anak merupakan kelompok yang rentan saat terjadi bencana. Karena itu, mereka perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan menggunakan peta jalur evakuasi sehingga mampu merespons secara cepat, tepat, dan aman ketika terjadi erupsi Gunung Merapi,” ujarnya.
Tim pengabdian yang terdiri atas Prof. Dr. Dewi Liesnoor Setyowati, M.Si., Prof. Dr. Tri Marhaeni Pudji Astuti, M.Hum., Prof. Dr. Ir. Saratri Wilonoyudho, M.Si., Prof. Dr. Puji Hardati, M.Si., Enda Kalyana Putri, S.T., M.T., dan Jamhur, M.T. melaksanakan pendampingan secara bertahap, mulai dari penyusunan jalur evakuasi, sosialisasi peta jalur evakuasi, hingga praktek penggunaan peta jalur evakuasi di lingkungan sekolah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan survei lapangan dan koordinasi bersama pihak sekolah pada 30 April 2026. Selanjutnya, pada 7 Mei 2026, tim memberikan materi mengenai kesiapsiagaan menghadapi erupsi Gunung Merapi. Materi disampaikan oleh Prof. Dewi Liesnoor Setyowati, sedangkan materi mengenai pemanfaatan media pembelajaran untuk simulasi kebencanaan disampaikan oleh Prof. Dr. Puji Hardati, M.Si.
Kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa dan guru tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta mengikuti evaluasi melalui pengisian angket untuk mengukur tingkat pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan.
Pendampingan dilanjutkan pada 9 Juni 2026 melalui praktek penggunaan peta jalur evakuasi. Dalam simulasi tersebut, siswa belajar mengenali lokasi aman, jalur penyelamatan, titik kumpul, serta prosedur evakuasi apabila terjadi erupsi Gunung Merapi. Melalui praktek langsung, siswa diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam situasi darurat secara lebih percaya diri.
Menurut Prof. Dewi, pemahaman terhadap peta jalur evakuasi menjadi bagian penting dalam upaya membangun sekolah yang tangguh bencana. Selain meningkatkan kesiapsiagaan siswa, guru juga diharapkan mampu menjadi pendamping yang sigap dalam mengarahkan proses evakuasi apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.
Program pengabdian ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah karena memberikan pengalaman belajar yang aplikatif dan sesuai dengan kondisi lingkungan tempat tinggal siswa yang berada di kawasan rawan bencana.
Melalui kegiatan ini, Tim Pengabdian UNNES berharap model edukasi mitigasi bencana berbasis praktek dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain yang berada di kawasan rawan bencana di Indonesia. Dengan demikian, pendidikan kebencanaan tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari budaya keselamatan yang tertanam sejak usia dini.
Kegiatan ditutup dengan praktek bersama, evaluasi, serta foto bersama antara tim pengabdian, guru, dan seluruh peserta. Pendampingan ini diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Krinjing sekaligus memperkuat kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi ancaman erupsi Gunung Merapi.
