6 Warisan Budaya Tak Benda Kota Semarang

warisan budaya tak benda Semarang

Semarangkita.id – Ketika berbicara soal warisan budaya, mungkin Sedulur Semarang langsung terpikir tentang bangunan atau benda-benda kuno. Namun, tahukah kamu kalau warisan budaya tak hanya berupa benda fisik saja lho lur? Ada yang disebut warisan budaya tak benda yang mencakup tradisi, adat, hingga kesenian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berikut 6 warisan budaya tak benda yang dimiliki oleh Kota Semarang.

1. Musik Lam Koan

Lam Koan berarti “Musik dari Selatan”. Terdiri dari “YangQin” “Dizi” “Cello” “Pipa” “Liuqin” dan “Zhang Ruan”. Lam Koan dimainkan di dalam berbagai kegiatan sehari-hari masyarakat Pecinan. Selain untuk orchestra musik Lam Koan juga dipergunakan sebagai musik latar belakang opera Fujian Selatan.

2. Kaligrafi China

kaligrafi china
Foto: blibli.com

Shufa atau Kaligrafi China adalah seni menulis indah yang menggabungkan estetika dengan keahlian teknis dalam membentuk karakter aksara Hanzi.

3. Barongsai Semarang

barongsai warisan tak benda semarang

Barongsai adalah tarian tradisional asal Tiongkok dengan menggunakan sarung menyerupai Naga. Barongsai di Semarang sebagai upacara adat, menghadirkan Boneka Gedawangan yang juga menjadi ciri khas Barongsai Semarang.

4. Bubur India Koja Semarang

bubur India Koja semarang
Foto: Hiling.indozone.id

Hidangan Khas berupa Bubur yang kaya akan rempah. Kuliner kaya rempah ala India yang menjadi sajian rutin dan menjadi tradisi turun-temurun pada saat buka bersama pada bulan Ramadhan di Masjid Jami’ Pekojan.

5. Wingko Babad Semarang

Wingko babad Semarang

Wujud perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa dengan perpaduan bahan dasar gula, tepung ketan, dan kelapa parut yang dibakar dan disajikan dalam bentuk bulat pipih kecokelatan dengan aroma yang khas.

6. Roti Ganjel Rel

Roti ganjel Rel

Roti Ganjel Rel adalah kue khas Semarang  yang menggambarkan ketahanan dan kreativitas masyarakatnya. Dibuat dari tepung tapioka, roti ini memiliki tekstur keras dan aroma kayu manis, serta menjadi simbol perjuangan dalam tradisi Dugder selama puasa di Semarang.

Leave a Reply