Semarangkita.id – Sejumlah sekolah dasar negeri di berbagai daerah kekurangan murid pada tahun ajaran 2026/2027 . Misalnya, di Jawa Tengah, puluhan SD Negeri yang kekurangan murid antara lain ada di Temanggung, Banyumas, Grobogan, Solo hingga Semarang.
Kekurangan murid juga dialami sejumlah SD negeri di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan beberapa wilayah di Jawa Timur. Bahkan, di Kabupaten Blitar, ada 3 SD negeri yang tak mendapat murid baru sama sekali hingga dimulainya tahun ajaran baru kali ini.
Menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), Nisa Felicia, ada beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena kekuranagan murid si sekolah negeri.
Pertama. perubahan demografi yang membuat jumlah anak usia SD terus menurun. Kedua, surplus jumlah sekolah. Ketiga, terkait persepsi orang tua tentang kualitas ketika memilihkan sekolah untuk anaknya.
Berdasarkan data BPS, jumlah murid SD negeri di bawah Kementerian Pendidikan dalam 5 tahun terakhir menurun. Sementara itu, jumlah murid SD swasta cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Sedangkan untuk Madrsah Ibtidaiyah (MI) atau setingkat SD di bawah Kementerian Agama, data BPS mencatat jumlah murid di institusi pendidikan itu meningkat dalam periode 2021-2025.
Bicara soal perbandingan kualitas, hasil analisis Asesmen Nasional 2025 yang dilakukan PSPK mencatat kemampuan literasi dan numerasi SD negeri dan swasta tidak jauh berbeda.
Menyikpai fenomena kekurangan murid di sekolah negeri, sejumlah pemerintah daerah membuka peluang penggabungan sekolah (regrouping) yang mengalami penurunan jumlah murid. Usulan itu muncul antara lain di Bali, Boyolali, Solo, Serang, Ponorogo, Blitar, hingga Pasuruan.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan mengadakan rapat bersama dengan kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menangani sekolah dengan jumlah siswa sedikit.
